UPAYA MENGATASI KECEMASAN TERHADAP SISWA
Oleh : Ati Rohaeti, S.Pd.I
GTT SMA N I Cilimus
Kecemasan dalam kehidupan lumrah dialami oleh setiap orang tak terkecuali oleh para siswa remaja di sekolah, kecemasan merupakan hal yang dapat menghambat dalam keberhasilan proses belajar bisa berakibat fatal yaitu tidak akan terwujudnya tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa“Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
Timbulnya kecemasan pada diri siswa dapat bersumber dari
• Faktor kebijakan sekolah, contohnya kerena peraturan-peraturan sekolah yang tidak fleksibel atau terlalu ketat dan selalu memprioritaskan sanksi atau hukuman yang tidak mendidik contohnya (memukul,menempeleng,dijemur dll), target kurikulum yang terlalu tinggi, sarana dan prasarana yang kurang memadai, sekolah yang tidak kondusif.
• Faktor guru juga dapat menimbulkan kecemasan pada siswa misalnya guru selalu memberikan tugas-tugas pelajaran terlalu padat tanpa tenggang rasa,sikap dan perlakuan guru yang kurang bersahabat, guru terlalu menjaga image sehingga kaku dihadapan siswa jadi guru terkesan judes,guru kurang kompeten,tidak adanya rasa humor atau terlalu serius.
• Faktor keluarga misalnya orang tua yang terlalu over protektif, tidak perhatian/cuek terhadap pribadinya, pekerjaan-pekerjaan rumah yang terlalu berat, faktor ekonomi dan sebagainya.
Tentu masih banyak lagi yang menjadi faktor timbulnya kecemasan pada siswa perlu penelitian yang seksama. Remaja merupakan proses awal dalam menentukan pilihan hidupnya yang bisa mempengaruhi fase perjalanan hidup selanjutnya, masa remaja disebut juga masa badai dimana diperlukannnya penanaman sikap optimisme yang lebih dalam menghadapi berbagai permasalahan yang muncul di kehidupannya, jangan sampai masa remaja tumbuh sikap yang selalu merasa cemas karena pesimisme yang berlebihan dan bisa mengakibatkan rasa ketakutan dalam menghadapi perjalanan hidupnnya akhirnya dia tidak mempunyai motivasi dalam hidupnya menjadi tidak kreatif dan menjadi manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya.
Kecemasan dianggap sebagai salah satu faktor penghambat dalam belajar yang dapat mengganggu kinerja fungsi-fungsi kognitif seseorang, seperti dalam berkonsentrasi, mengingat, pembentukan konsep dan pemecahan masalah. Pada tingkat kronis dan akut, gejala kecemasan dapat berbentuk gangguan fisik(somatik), seperti: gangguan pada saluran pencernaan, sering buang air, sakit kepala, gangguan jantung, sesak di dada, gemetaran bahkan pingsan.(Sieber e.al. 1977).
Sebagai guru kita wajib membimbing siswa untuk membangkitkan rasa optimisme agar dapat mencegah dan mengurangi rasa kecemasan siswa di sekolah yang bisa mengakibatkan dampak negatif terhadap hasil prestasi belajar siswa dan bisa mengganggu kesehatan fisik dan perkembangan psikologinya. Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh guru antara lain melalui :
1. Pendekatan Agama
”Kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan semata. Sungguh, dugaan tiada berguna sedikit pun melawan kebenaran. Sungguh, Allah mengetahui segala yang mereka lakukan.” (QS Yunus 10:36 ).Tanamkan kepada siswa jangan mempunyai sipat prasangka buruk terhadap siapapun terlebih kepada Allah SWT. Selalu bersikap positif akan dapat melindungi dirinya dari rasa cemas yang berlebih yang akan merugikannya dan dengan berpikir positif akan mampu melahirkan ide-ide kreatif, beri semangat kepada para siswa bahwa sikap positif dapat menghantarkan kepada kesuksesan, hadapi selalu masalah dengan sikap DUIT yakni Doa, Usaha, Ikhtiar dan Tawakal.
2. Menciptakan Suasana Belajar yang Menyenangkan
Dengan asas Hypnoteaching “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, antarkan dunia kita ke dunia mereka”, Rasulullahpun menyuruh kepada kita untuk memberi pelajaran kepada anak-anak harus sesuai dengan zamannya. Jangan terlihat kuno didepan siswa sehinnga kita terlihat kaku didepan siswa. Tercapainya interaksi pembelajaran kitapun harus masuk ke dunia mereka berikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan ide-ide mereka jangan langsung mendoktrin mereka bodoh apabila kurang tepat dengan idenya, hargai setiap usaha mereka walupun hal kecil misalnya dengan kata ‘Ok bangets tuh’ dengan senyuman atau dengan menyuruh temannya memberikan tepuk tangan, selipkan humor di sela-sela pemberian materi tanpa mengurangi tujuan materi ingat jangan pernah meyudutkan kekurangan seorang siswa, Apabila bosan belajar di dalam kelas ajak skali kali mereka belajar di luar ruangan.
3. Pengembangan Menejemen Sekolah
Perhatikan sarana dan prasarana sekolah untuk kepentingan belajar misalnya perlengkapan di dalam kelas kursi, meja, papan tulis dll, ciptakan lingkungan sekolah yang sehat, aman dari berbagai tekanan misalnya dari pemalakan terhadap siswa dari temannya, terapkan disiplin sekolah yang manusiawi hindari bentuk kekerasan pisik dan psikis terhadap siswa.
4. Fungsikan Peran Guru BP/BK
Jauhkan kesan bahwa guru BP/BK sebagai polisi siswa, bereaksi apabila ada masalah saja. Tumbuhkan kesan bahwa guru BP sebagai siswa dan tidak perlu takut apabila masuk kedalam ruangan BP/BK. Berikan pelayanan bimbingan dan konseling yang optimal terhadap siswa dengan komunikasi yang lebih intens dan efektif sudah tentu hal ini harus ada jam juga untuk guru BP/BK untuk masuk kelas seperti pelajaran lainnya agar pembinaan dan pembentukan karakter menjadi lebih terencana dan satu hal lagi diperlukan konselor professional sudah menjadi mutlak adanya.
Upaya-upaya diatas banyak diharapkan dapat menghindari kecemasan yang berlebih terhadap siswa dengan itu kita bisa mewujudkan tujuan pendidikan sehingga siswa merasa nyaman dan bisa melahirkan ide-ide kreatif yang berguna untuk pribadinya, serta nusa dan bangsa. Amiin..
Jumat, 21 Mei 2010
Kamis, 20 Mei 2010
Langganan:
Komentar (Atom)
